Kementerian PU menargetkan 10 ruas jalan tol baru sepanjang 201,12 km fungsional untuk arus mudik Nataru 2026/2027. Berikut daftar lengkapnya, plus estimasi kebutuhan marka jalan per ruas dari sudut pandang vendor thermoplastic.
Table of Contents
Kepala BPJT Ni Komang Rasminiati mengumumkan bahwa 10 ruas jalan tol baru sepanjang total 201,12 km berpotensi rampung akhir 2026 dan akan dibuka fungsional (gratis) untuk mendukung arus Natal 2026 & Tahun Baru 2027. Ruas-ruas ini tersebar dari Aceh sampai Jawa Timur, dan seluruhnya butuh marka jalan thermoplastic sesuai standar Permenhub 37/2021 sebelum dilalui kendaraan.
Daftar Isi
Sebagai produsen sekaligus aplikator marka thermoplastic, tim MKI mengikuti dengan cermat perkembangan proyek tol nasional karena setiap ruas baru yang siap dibuka berarti kebutuhan marka jalan yang harus terpasang tepat waktu — sesuai spesifikasi Bina Marga, tahan cuaca akhir tahun, dan siap dilalui puluhan ribu kendaraan per hari saat Nataru. Artikel ini merangkum daftar resminya dari BPJT, kemudian kami tambahkan analisis teknis dari sisi kebutuhan material dan aplikasi marka.
1. Rangkuman: 10 Ruas Tol, 201,12 km
Berdasarkan pemaparan Kepala BPJT dalam acara InfraTalks Kementerian PU (19 Juni 2026), berikut daftar 10 ruas yang ditargetkan fungsional saat Nataru 2026/2027:
| No | Ruas Tol & Seksi | Panjang | Provinsi |
|---|---|---|---|
| 1 | Sigli–Banda Aceh Seksi 1 (Padang Tiji–Seulimeum) | 24,67 km | Aceh |
| 2 | Palembang–Betung Seksi 1–4 (Kramasan–Pulo Rimo) | 54,50 km | Sumatera Selatan |
| 3 | Probolinggo–Banyuwangi Seksi 3 (Paiton–Besuki) | 25,60 km | Jawa Timur |
| 4 | Serang–Panimbang Seksi 2 (Rangkasbitung–Cileles) | 24,17 km | Banten |
| 5 | Japek II Selatan Seksi 6 (Kutanegara–Sadang) | 8,50 km | Jawa Barat |
| 6 | Akses Patimban | 19,39 km | Jawa Barat |
| 7 | Semarang–Demak Seksi 1A & 1C | 3,66 km | Jawa Tengah |
| 8 | Solo–Yogyakarta–NYIA Paket 1.2B, 2.1A, 2.2B | 18,36 km | Jateng–DIY |
| 9 | Yogyakarta–Bawen Seksi 1 & 6 | 15,10 km | DIY–Jateng |
| 10 | Kediri–Tulungagung Akses Bandara Dhoho | 7,17 km | Jawa Timur |
| TOTAL | 201,12 km | ||
Perlu dicatat: fungsional (dibuka gratis tanpa gerbang tol) tidak sama dengan operasional komersial penuh. Sebagian ruas dibuka satu arah, sebagian dua arah, dan beberapa hanya untuk kendaraan Golongan I nonbus. Perbedaan ini berpengaruh langsung ke kebutuhan marka lajur — dibahas di bagian berikutnya.
2. Estimasi Kebutuhan Marka Jalan per Ruas
Estimasi berikut menggunakan asumsi konservatif berdasarkan pengalaman aplikasi kami di lapangan. Kebutuhan aktual bisa berbeda tergantung konfigurasi lajur final, jumlah simpang susun, dan panjang bahu jalan.
Metodologi Perhitungan
Untuk tol dua lajur dua arah (2×2), marka membujur yang dibutuhkan mencakup: 2 edge line (garis tepi kiri & kanan), 2 lane line (pemisah lajur), dan 1 center line pemisah arah. Total sekitar 5 garis longitudinal per kilometer, atau ekuivalen 5.000 meter lari (m’) marka per kilometer jalan. Untuk konfigurasi 4 lajur, angkanya sekitar 8.000–9.000 m’ per km.
Di luar marka membujur, dibutuhkan marka transversal (garis melintang di simpang susun, gerbang tol, rest area), marka simbol (panah, huruf, chevron), serta rumble strip pada zona pengurangan kecepatan. Volume total marka transversal & simbol biasanya 8–12% dari total marka membujur.
| Ruas | Panjang | Estimasi Marka Membujur | Estimasi Total (m’) |
|---|---|---|---|
| Sigli–Banda Aceh Sk. 1 | 24,67 km | ~123.350 m’ | ~135.000 m’ |
| Palembang–Betung Sk. 1–4 | 54,50 km | ~272.500 m’ | ~300.000 m’ |
| Probowangi Sk. 3 | 25,60 km | ~128.000 m’ | ~140.000 m’ |
| Serang–Panimbang Sk. 2 | 24,17 km | ~120.850 m’ | ~132.000 m’ |
| Japek II Selatan Sk. 6 | 8,50 km | ~42.500 m’ | ~47.000 m’ |
| Akses Patimban | 19,39 km | ~155.120 m’ | ~170.000 m’ |
| Semarang–Demak Sk. 1A & 1C | 3,66 km | ~18.300 m’ | ~20.000 m’ |
| Solo–Yogyakarta–NYIA | 18,36 km | ~91.800 m’ | ~100.000 m’ |
| Yogyakarta–Bawen Sk. 1 & 6 | 15,10 km | ~75.500 m’ | ~83.000 m’ |
| Kediri–Tulungagung Akses Dhoho | 7,17 km | ~35.850 m’ | ~39.000 m’ |
Total agregat kebutuhan marka untuk 10 ruas ini diperkirakan berada di kisaran 1,15–1,25 juta meter lari. Dengan asumsi lebar marka 12–15 cm dan ketebalan 3 mm sesuai Peraturan Bina Marga, konsumsi material thermoplastic-nya berada di kisaran 1.400–1.700 ton — belum termasuk glass beads drop-on. Angka yang tidak kecil, dan menjelaskan kenapa persiapan lelang preservasi & pengadaan material marka biasanya sudah dimulai 4–6 bulan sebelum target buka.
3. Standar Marka: Fungsional vs Operasional Komersial
Ini sering jadi salah paham. Ruas fungsional saat Nataru tidak berarti standar markanya lebih rendah dari ruas operasional komersial. Semua marka pada jalan tol tunduk pada Permenhub No. 37 Tahun 2021 tentang Standar Marka Jalan & Rambu Lalu Lintas, serta Spesifikasi Umum 2017 (SSU 2017) Bina Marga untuk ketebalan dan kualitas material.
| Aspek | Fungsional Nataru | Operasional Komersial |
|---|---|---|
| Standar material | Sama (thermoplastic sesuai SSU 2017) | Sama |
| Ketebalan minimum | 2,5–3,0 mm | 2,5–3,0 mm |
| Retroreflektifitas awal | Wajib >150 mcd/m²/lx (putih) | Wajib >150 mcd/m²/lx |
| Timeline pemasangan | Padat (Oktober–November) | Sesuai jadwal proyek |
| Marka sementara | Diizinkan pada segmen belum selesai | Tidak berlaku |
Perbedaan utama fungsional vs operasional bukan di kualitas marka, tapi di timeline dan traffic management. Ruas fungsional harus siap dalam jendela waktu yang sempit — biasanya Oktober–November 2026 untuk target buka pertengahan Desember — sementara musim hujan sedang puncak-puncaknya. Ini yang bikin logistik dan penjadwalan aplikasi marka jauh lebih menantang dari proyek biasa.
4. Detail per Ruas: Karakteristik & Implikasi Marka
Sigli–Banda Aceh Seksi 1 (Padang Tiji–Seulimeum)
Bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Seksi 1 ini sudah lama dinanti karena akan memangkas waktu tempuh Sigli–Banda Aceh signifikan. Karena difungsikan untuk seluruh golongan kendaraan termasuk truk berat, spesifikasi marka thermoplastic-nya harus lebih tebal (rekomendasi 3 mm penuh) dan ekstra glass beads drop-on untuk visibilitas malam yang optimal.
Palembang–Betung Seksi 1–4 (Kramasan–Pulo Rimo)
Ruas terpanjang di daftar ini. Menghubungkan Palembang menuju Betung, bagian penting dari koridor Trans Sumatera menuju Jambi. Panjang 54,50 km berarti mobilisasi mesin aplikator harus disiapkan dalam 2–3 gelombang untuk kejar timeline. Ini juga ruas dengan volume kendaraan yang diprediksi cukup padat saat mudik.
Probolinggo–Banyuwangi Seksi 3 (Paiton–Besuki)
Bagian dari mega-proyek Tol Probowangi. Seksi 1 & 2 (Probolinggo–Paiton) sudah diumumkan rampung awal Agustus 2026 dan segera operasi; Seksi 3 (Paiton–Besuki) menyusul untuk Nataru. Ruas ini melewati kawasan pesisir utara Jatim yang kelembapan udaranya tinggi — faktor penting saat memilih formula thermoplastic (kadar filler karbonat harus disesuaikan agar tidak menyerap air).
Serang–Panimbang Seksi 2 (Rangkasbitung–Cileles)
Ruas ini sangat relevan untuk wilayah operasi MKI karena melewati Banten — provinsi tempat kami berbasis. Difungsikan satu arah artinya kebutuhan marka membujur turun (hanya sisi A), tapi tetap membutuhkan marka transversal & simbol di setiap simpang susun. Baca juga cakupan jasa marka jalan MKI di wilayah Banten & Tangerang.
Japek II Selatan Seksi 6 (Kutanegara–Sadang)
Difungsikan khusus untuk arus balik dari Sadang menuju Jakarta — jadi salah satu ruas paling strategis untuk mengurai kepadatan tol Cikampek pasca-liburan. Meski hanya 8,50 km, prioritasnya sangat tinggi. Marka lane divider (garis putus-putus pemisah lajur) di ruas ini krusial untuk manajemen traffic saat volume kendaraan puncak.
Akses Patimban
Menghubungkan Tol Cipali dengan Pelabuhan Patimban di Subang — ruas dengan konteks logistik industri yang kuat (termasuk kawasan otomotif tempat MKI sebelumnya mengerjakan line striping proyek VinFast 7 km). Konfigurasi 4 lajur berarti kebutuhan marka membujur per km hampir dua kali lipat dibanding ruas 2 lajur. Ruas ini juga akan sering dilalui truk kontainer, sehingga daya tahan marka jadi prioritas.
Semarang–Demak Seksi 1A & 1C
Ruas terpendek di daftar, tapi lokasinya kritis untuk mengurai lalu lintas keluar Kota Semarang menuju arah Demak. Meski hanya 3,66 km, konfigurasi 2 jalur 2 arah dengan 2 lajur artinya kebutuhan marka membujur cukup padat per km-nya.
Solo–Yogyakarta–NYIA Kulonprogo Paket 1.2B, 2.1A, 2.2B
Termasuk ruas dengan volume mudik tertinggi setiap tahun. Menghubungkan Solo–Yogyakarta serta akses ke Bandara YIA/NYIA Kulonprogo. Karena difungsikan satu arah, perencanaan traffic marker & chevron di titik konversi arah menjadi sangat kritis untuk mencegah kesalahan pengemudi.
Yogyakarta–Bawen Seksi 1 & 6
Membentuk koridor konektivitas Yogyakarta ke Semarang. Kombinasi kontur berbukit di sekitar Bawen membuat marka delineator dan chevron di tikungan tajam menjadi krusial — bukan sekadar aksesori tapi elemen keselamatan wajib.
Kediri–Tulungagung Akses Bandara Dhoho
Ruas akses langsung ke Bandara Internasional Dhoho Kediri. Karena berperan sebagai akses bandara, standar marka simbol (panah arah, marka penuntun, zebra cross di area penurunan penumpang) lebih kompleks dibanding ruas tol biasa.
5. Tantangan Aplikasi Marka Jelang Nataru
a. Musim hujan bertepatan dengan window aplikasi
Ini tantangan operasional terbesar. Target fungsional pertengahan Desember 2026 berarti aplikasi marka final harus rampung paling lambat awal Desember — bertepatan dengan puncak musim hujan di banyak wilayah. Aplikasi thermoplastic butuh permukaan aspal kering dan suhu 10–40°C. Kontraktor yang berpengalaman biasanya memanfaatkan jendela pagi hari (04.00–09.00) dan pra-malam (16.00–19.00) saat kelembapan lebih rendah.
b. Mobilisasi lintas provinsi
10 ruas tersebar dari Aceh hingga Jawa Timur. Vendor marka nasional harus mengelola distribusi mesin aplikator (ribbon extruder, screed box, drop-on beads dispenser) dan tim aplikator lintas pulau — logistik yang tidak bisa disiapkan mendadak. Vendor lokal per wilayah biasanya jadi solusi paralel.
c. Kualitas material di tengah tekanan volume
Kebutuhan 1.400–1.700 ton thermoplastic dalam 3–4 bulan berarti demand material naik signifikan. Risikonya: subkontraktor yang tidak siap kapasitasnya bisa tergoda menekan kadar resin atau glass beads untuk mengejar volume — yang berujung marka mengelupas dalam hitungan bulan. Untuk pengguna jalan, ini fatal.
d. Koordinasi dengan BUJT dan kontraktor sipil
Aplikasi marka hanya bisa dilakukan setelah lapisan aus (AC-WC) selesai dan mengeras minimal 14 hari. Koordinasi dengan kontraktor sipil yang mengerjakan aspal dan operator jalan tol (BUJT) jadi kritis — jendela aplikasi marka sangat pendek antara aspal siap dan tol dibuka.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa bedanya fungsional dan operasional komersial pada tol baru?
Fungsional berarti ruas dibuka untuk dilalui kendaraan tanpa tarif (gratis), biasanya untuk mendukung event seperti Nataru atau Lebaran. Operasional komersial berarti ruas sudah lengkap infrastrukturnya, ada gerbang tol berfungsi, dan pengguna dikenakan tarif. Standar material marka sama untuk keduanya; yang berbeda adalah lengkap-tidaknya fasilitas pendukung (rest area, gantry tol, dsb).
Apakah marka jalan pada tol fungsional lebih tipis atau berkualitas rendah?
Tidak. Semua marka pada jalan tol tunduk pada Permenhub 37/2021 dan SSU 2017 PUPR, dengan ketebalan minimum thermoplastic 2,5–3,0 mm terlepas dari status fungsional atau operasional. Yang berbeda hanya konfigurasi lajur (satu arah vs dua arah), yang mempengaruhi jumlah garis membujur bukan kualitas material.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memasang marka thermoplastic pada tol 25 km?
Dengan mesin truck-mounted spray, produktivitas mencapai 2.000–3.000 m per jam. Untuk ruas 25 km dengan 5 garis membujur (total ~125.000 m’), aplikasi murni marka membujur bisa selesai dalam 6–8 hari kerja efektif. Tapi realitanya, cuaca, akses lokasi, dan koordinasi traffic sering menambah waktu total menjadi 3–4 minggu.
Ruas fungsional mana yang paling dekat dengan wilayah operasi MKI?
Tol Serang–Panimbang Seksi 2 (Rangkasbitung–Cileles) di Banten adalah yang paling relevan dengan wilayah operasi MKI, mengingat kami berbasis di Tangerang dan rutin mengerjakan proyek di seluruh Banten. Silakan lihat portofolio wilayah kami di jasa marka jalan Tangerang.
Bagaimana proses lelang marka jalan pada proyek tol nasional?
Umumnya melalui LPSE Kementerian PU atau LPSE BUJT (Badan Usaha Jalan Tol) pemegang konsesi ruas terkait. Paket marka biasanya masuk sebagai subpaket dari kontrak konstruksi utama, atau sebagai paket preservasi terpisah untuk repaint berkala. Vendor terpilih harus punya SBU jasa konstruksi terkait dan bukti pengalaman marka thermoplastic dengan volume yang setara.
Butuh Vendor Marka untuk Proyek Tol atau Preservasi Jalan?
MKI adalah produsen & aplikator marka thermoplastic dengan pengalaman menangani proyek kawasan industri, komersial, hingga jalan raya. Kapasitas produksi & tim aplikator kami siap mobilisasi ke berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Konsultasikan Kebutuhan AndaReferensi & Sumber
- Kementerian Pekerjaan Umum RI, siaran resmi InfraTalks BPJT, 19 Juni 2026 (Kepala BPJT Ni Komang Rasminiati & Menteri PU Dody Hanggodo)
- CNN Indonesia — “PU Targetkan 10 Tol Baru Beroperasi Fungsional saat Libur Nataru 2026”, 20 Juni 2026
- Bisnis.com — “Proyek 10 Jalan Tol Baru Ditargetkan Rampung Akhir 2026, Ini Daftarnya”, 7 Juli 2026
- Peraturan Menteri Perhubungan No. 37 Tahun 2021 — Standar Marka Jalan & Rambu Lalu Lintas
- Spesifikasi Umum 2017 (SSU 2017), Bina Marga PUPR — Divisi 8 Marka Jalan
- Data operasional PT Bentala Mandiri Perkasa (MKI), periode 2024–2026







